About Me

Saturday, November 7, 2015

Bermain di lantai (floor time)

bercanda bareng kakak
main kuda kudaan
bermain lego
belajar mewarnai

Sebenarnya bagaimana cara menstimulasi perkembangan otak dan saraf anak? Apakah harus dengan mainan atau cukup dengan memberikan nutrisi yang baik saja? Untuk perkembangan otak anak, bayi membutuhkan asupan zat besi, lemak dan kolesterol, DHA, glycoprotein dan gangliosida. Semua zat itu terdapat pada air susu ibu (ASI).Perkembangan otak.tidak hanya dengan nutrisi tetapi juga harus dengan stimulasi atau anak diajak bermain.

Stimulasi ini diperlukan agar sinaps (sambungan antarsaraf dalam otak) dapat terus berkembang. Sinaps yang tidak digunakan karena kurangnya stimulasi akan spontan menghilang.

 Seiring perkembangan anak, pemberian nutrisi dan stimulasi harus seimbang. Kedua hal tersebut harus terus diberikan selama periode emas si anak, atau pada tiga tahun pertama. Pada saat itulah otak tumbuh dan berkembang sangat pesat. Stimulasi yang baik juga dapat merangsang perkembangan semua sistem sensorik dan motorik anak.

 tujuan memberikan stimulasi pada bulan-bulan pertama di antaranya mengembangkan minat terhadap suara, sensasi, penglihatan, dan untuk menenangkan diri. Setelah itu untuk membangun komunikasi dua arah antara si anak dan orangtua atau orang lain.

Bermain di lantai atau floor time merupakan salah satu metode untuk menstimulasi perkembangan anak. karena dengan cara ini anak merasa lebih nyaman. orang tua dipaksa sejajar dengan anak sehingga tidak memaksa anak menengadah untuk berkomunikasi, yang memberikan pengaruh buruk pada mata anak-anak.

Melalui floor time, anak akan terlatih atensinya terhadap sesuatu dan memberikan kedekatan emosi dengan orangtuanya. Saat bermain dengan anak, tidak perlu menggunakan mainan yang mahal. untuk melatih pendengaran, bisa digunakan mangkuk plastik yang dipukul pukul, atau kertas yang diremas remas, sehingga mendorong anak untuk mencari darimana asal bunyi itu. Untuk melatih penglihatan, bisa digunakan mainan atau benda yang berwarna terang, diperlihatkan kepada anak, kemudian digeser atau dipindah, jika respon anak baik ia akan mengikuti benda itu atau berusaha meraih benda itu.

Saat si anak seperti menolak benda yang kita berikan, itu berarti dia takut atau tidak suka dengan benda itu. ''Kalau sudah begini jangan dipaksa, karena bisa-bisa anak akan ketakutan dan terus terbayang sampai besar,''

  saat bermain dengan anak, orangtua harus bersabar dan jangan mengharapkan anak mempunyai berbagai kemampuan sekaligus. Mainan yang diberikan saat bermain jangan semuanya dikeluarkan dan disodorkan kepada anak. Mainan seharusnya dikeluarkan satu per satu, dan biarkan si anak menelaah mainan itu. Setelah dirasa cukup, baru mainan diganti yang lain.selain itu, ikuti alur yang diinginkan anak, jangan memaksakan aturan bermain versi kita atau membantah peraturan anak. Saat anak memegang gagang telphone mainan, coba kita ikuti alur cerita yang di buat, kita pura pura menjawab telphone dan seolah olah berbicara dengan dia. atau coba gali informasi darinya dengan pertanayaan "adik sedang menelphone siapa?" bila dia menjawabmenelphone nenek,coba tambahi pertanyaan nenek ngomong apa? dan pertanyaan lainya yang merangsang dia untuk terus berimajinasi.Dengan metode ini, anak juga dapat berbagi perasaan dengan orang lain, berekspresi (merangsang emosi).

saat anak bermain sesuatu dan memukul mainan tersebut. Ketika dia merasa kesakitan, sambil menangis dia julurkan tangannya kepada kita. Saat itulah, dia ingin berbagi perasaan. ''Kita harus tanggap untuk langsung berinteraksi,'' 


No comments:

Post a Comment